3 Cinta 0 Rasa

Malam begitu terang bersama ribuan bintang yang  terbentang diberbagai sudut langit yang terlihat begitu indah, udara dingin begitu terasa sampai ke dalam tulang sumsum, memaksa orang yang merasakan untuk mengurung diri di dalam tempat tinggal mereka. Berbeda dengan Anita,ia mengajak badannya untuk duduk di bawah sebuah pohon yang menjulang tinggi di depan rumahnya. Sambil sesekali membuka buku, buku yang selama ini menjadi teman setiap malam datang.

Setelah merasakan dinginnya malam, Anita beranjak dari duduknya lalu ia masuk ke dalam rumah. Di kamar, Anita merebahkan badan di atas kasur pink imut dan manis miliknya. Setelah beberapa jam terlewati Anisa belum juga bisa tertidur. Ia bingung, besok adalah hari pembagian IJAZAH, dimana ia harus menjawab perasaan Dicky, yang Dicky nyatakan dua minggu yang lalu. Anita ingin menerimanya, tapi ia tak mau menyakiti perasaan Dicky.

Jarum jam menunjukan angka 08.07. Anita berlari masuk ke dalam kamar mandi, ia menggosok gigi dan mukanya yang kusam. Lalu ia bersiap-siap berangkat sekolah. Anita memasuki garasi rumahnya, ia menstater motor otomatic yang baru dibelikan papahnya bulan lalu. Sesampainya di sekolah ternyata gerbang belum tertutup, Anita berjalan menelusuri koridor menuju kantin sekolah. Sekolah sangat ramai oleh anak-anak kelas IX SMP Budi Jaya yang akan menerima IJAZAH siang nanti.

\”Hai,,, Nit!”sapa seorang teman yang bernama Tania, di sampingnya terdapat seorang cewek yang bernama Elina, mereka adalah taman-taman Anita.

\”Hai,,,,,,,, kalian mau nganter gue gak?”

\”Kemana Nit,,?”Kini Elina yang angkat bicara.

\”Kantin!”

\”Ok… gue mau..!!”

Mereka pergi ke kantin bersama, sepulang dari kantin. Di tengah perjalanan menuju kelas mereka dihadang oleh 3 orang cowok dari belakang.

\”Nita…!” cewek yang akrab dipanggil Nita ini memutar badannya dan ia memperlihatkan ekspresi menegangkan bagi orang yang melihatnya. \”Mau ikut gue gak..”

\”Emhh,,,, ok deh!” Anita menyetujui ajakan Dicky, lalu ia melambaikan tangan kepada kedua temannya.

Cowok bernama Dicky inilah yang membuat Anita susah tertidur setiap malam. Sekarang Dicky mengajak Anita untuk mengelilingi setiap sudut ruangan yang ada di dalam sekolah mereka. Dicky menggandeng tangan Anita, lalu Dicky mengedipkan sebelah mata kepada kedua temannya. Di tengah perjalanan, Dicky menanyakan prihal jawaban Anita atas pertanyaan yang Dicky lontarkan dua minggu yang lalu. Anita terdiam ia memikirkan kata-kata yang sudah ia persiapkan sejak malam. Tapi semua yang ia persiapkan hilang tanpa ada bekas sedikitpun. Anita kini bingung harus mengatakan apa di hadapan cowok itu.

\”Nita,,,,,” Dicky melambaikan satu tangannya di depan mata Anita. \”gue tau loe belum siap, Nita”

\”Eh,, gak kok gak.” Anita terdiam kembali lalu melanjutkan kata-katanya \”ok, gini,,,, sekarang semua keputusan ada di loe dan gue mau nanya ma loe” Anita menarik nafasnya perlahan ”loe mau kita pacaran jarak jauh? Loe kuat kita gak ketemu selama satu tahun? Loe mau bertahan kalo hubungan kita kaya gini? Sebenernya gue juga sayang sama loe, Dick” Dicky terdiam, ia tak bisa menjawab apa-apa \”Jawab Dick…” Anita mendesak.

\”Loe mau kemana, ta..? kenapa kita harus pacaran jarak jauh..?”

\”Asal loe tau, Dick… bokap gue sibuk dengan pekerjaannya. Dia gak mau gue terlantar, sedangkan nyokap gue udah gak ada..” Anita diam mengatur nafasnya yang sesak. \”Bokap gue mau kalo gue tinggal di Depok, di rumah seorang tante gue dan tante  gue gak   ngebolehin gue pulang, kecuali bokap yang nyuruh gue untuk pulang.” Anita menyeka air matanya yang  tak terbendung lagi. Kini dia sudah tidak kuat untuk meneruskan perkataannya. Ia berlari meninggalkan Dicky yang diam mematung.

@         @         @

SATU BULAN KEMUDIAN

Di kediamannya, Anita melamun. Esok ia akan meninggalkan kampung kelahirannya menuju sebuah kota besar di Depok. Di tengah-tengah lamunannya, Anita teringat sosok Dicky yang selama satu bulan ini belum bertukat kabar. Bukan karena Dicky tidak pernah menghubungi Anita. Melainkan setiap Dicky menghubungi Anita, Anita slalu menghidar dangan cara mematikan hendphonenya. Kini Anita akan menelpon Dicky, ia ingin menyempaikan sesuatu pada Dicky.

\”Hallo,,,?”

\”Hai…!” jawab Dicky dengan ketus.

\”Dick,, kenapa,,? Kok jutek gitu sih…!!”

\”Gak,,gue gak kenapa-kenapa!!!!!!!!”

\”Loe marah..?”

\”Gak tuh,, gue gak marah, kalo gue marah males deh angkat telpone dari loe…!!” Anita diam, ia tidak mengucapkan sepatah-duapatah kata pun kepada Dicky, sampai Dicky menyadarinya.

\”Ada angin apa loe nelpon gue,,,? Biasanya klo gue nelpon, gak pernah loe angkat,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!”

\”Gue mau minta maaf sama loe, bulah lalu gue ninggalin loe sendiri..”

\”Trus kenapa selama in loe gak pernah mau angkat telpon dari gue,,?” Dicky menegaskan suaranya membuat Anita takut untuk meneruskan.

\”Gu,,gue masih belom siap sama semua ini, sekarang gue mau bilanng ma loe kalo besok gue mau berangkat ke depok” Anita menarik nafas dalam-dalam \”gue harap loe mau ngasih waktu loe cuma buat nemuin gue besok!”

\”Sorry,, loe pasti ngerti. Sebenernya sih gue pengen ngeliat loe, ketemu loe, tapi gue gak bias. Besok gue harus ikut Nyokap Bokap gue ke Semarang, mereka pindah tugas dan sekalian ngasih waktu buat gue untuk refreshing..!!”

\”Gue ngerti kok, maafin gue ya,,? Makasih atas semuah yang loe kasih ke gue, GOOD LUCK di sekolah baru.” Anita menyudahi telpon dengan memencet tombol merah disebelah kiri poneselnya. Anita sangat sedih, orang pertama yang masuk dan slalu berada di dalam hatinya kini akan menjauh dan sangat jauh. Ia takut jika suatu saat nanti Dicky lupa padanya.

Malam ini adalah malam kedua dimana Anita sulit untuk memejamkan kedua matanya yang bundar nan elok. Padahal esok ia perlu energy yang banyak untuk perjalanan panjang menuju kota Depok yang indah jelita. Sampai jam 22.09 Papahnya belum juga pulang dari kantor tempatnya bekerja. Anita menangis, ia mengingat masa lalunya yang indah. Ketika sang Papah mengajaknya untuk berlibur setiap hari minggu. Tapi kini Papahnya sibuk mengurusi benda yang tak hidup dan tak ada habisnya bila slalu difikirkan, yang ada hanya bisa menjerumuskan orang yang merasakan.

Dari samping kak Angga, kakaknya Anita datang seraya menepuk punggung Anita \”kak Angga,,,” Anita memeluk kakak tersayang yang ia miliki dan hanya kakaknyalah yang mengurusi Anita sejak Mamanya meninggal hingga menjadi anak yang diidamkan oleh semua orang tua. \”Papah Kak..!!”

\”Sabar sayang, kakak tau kok apa yang sedang kamu rasakan, , , kamu jangan menangis terus kaya gini donk, kakak jadi ikut sedih.!!!!”

\”Kak, Nita kangen Mama” air mata bercucuran dari mata indah milik anita, ia menceng air mata dengan tangannya agar tidak  jatuh mengenai pipinya yang putih berseri. \”kapan kita bias kumpul bareng sama Mama,,,?”

\”Kita berdoa saja agar Mama sehat di sana, biar kita bias ketemu Mama. Sekarang kamu tidur ya,?Kapan-kapan kita jiarah ke makam Mama!”

Mereka berjalan memasuki kamar masing-masing. Hari bengitu cepat terasa, tak disangka Anita akan menduduki bangku SMA. Begitu pun malam, malam datang begitu cepat tanpa ada yang memberi tau. Malam ini terlihat begitu terang, rembulan terbentang di antara langit yang terang berkilau, bintang-bintang bertabur jelas di angkasa. Kesunyian di tengah malam makin terasa, dikala seluruh makhluk yang bernafas di dunia ini terlelap dalam mimpi yang indah. Dan hanya merekalah yang tau semua mimpi itu , diri mereka sendiri pulalah yang dapat merasakan keindahah mimpi mereka.

Tengah malam yang begitu dingin Anita terbangun dari tidur nyenyaknya, ia tertegun karena bermimpi melihat Mamanya. Lalu cepa-cepat ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di dalam kamar luas berukuran 9x8m. kemudian Anita berwudhu dengan air keran yang sangat dingin. Ia berdoa untuk kebaikan Mamanya di sana, ia juga berharap agar Papanya cepat sadar dan dapat berkumpul kembali dengan mereka walau tanpa kehadiran Mama tercinta di samping.

@         @         @

\”Kamu berubah banget sayang, dulu terakhir kamu kesini kelas dua SD loh? Tante juga gak pernah main ke rumah kamu, jadi tante pangling gitu ngelian kamu” Tante Mirna menghembuskan nafasnya perlahan kemudian ia melanjutkan  \”Dulu kamu terlihat imut, manis, menggemaskan dan lucu banget. Tapi Anita yang sekarang jauh lebih imut, manis, menggemaskan dan lucu ditambah kamu sekarang sudah dewasa dan orang dewasa identic dengan kecantikan dan kebersihan” Tante Mirna menyudahi ceritanya dengan memuji anita.

\”Ah,,,Tante bisa aja.”

\”ya udah, sekarang kamu makan ya, tante yakin perut kamu sudah berkicau. Oh ya , ajak juga kakak kamu”

\”Tante gak ikut makan sekalian.?”

\”tante masih banyak pekerjaan. Lagi pula tadi pagi tante makan dua porsi, jadi perut Tante masih penuh, belum lapar.” Tante Mirna berjalan menuju dapur, kemudian ia mencuci piring dan menyimpan seluruh benda yang ada di dapur pada tempatnya. Lalu ia meluncur menuju sebuah kamar, kamar yang akan ditempati oleh Anita selama berada di Depok. Di kamar, Tante Mirna merapikan kasuryang sudah lama tidak digunakan, lalu tante Mirna membungkusnya dengan seprai berwarna hijau bercorak kodok sedang menggendong anaknya.Kemudian Tante Mirna berjalan menuju lemari lebar di kamar tersebut lalu tante Mirna membersikan dalamnya agar pakaian Anita tidak kotor.

Siang berbaur dengan polusi udara kota yang diterpa angin kencang. Anita, Kak Angga beserata Tante Mirna pergi kesuatu tempat bergedung mewah yang akrab dipanggil MAL, mereka akan membelanjakan uang yang ada untuk mendapatkan apa yang sangat mereka butuhkan.Anita bingung, karena ia akan menghadapi SMA bukan lagi SMP yang biasa disebut anak ingusan. Akhirnya Anita minta bantuan kepada Kak Angga dan Tante mirna yang sudah berpengalaman dalam hal seperti ini.Ia takut, jika tidak bertanya pada orang lain ia akan tersesat nantinya.

Setelah selesai memilih pakaian dan peralatan yang Anita perlukan di SMA.Barulah Tante Mirna dan Kakaknya memikirkan urusan masing-masing. Kak Angga begegas pergi ke utara, Tante Mirna juga pergi, tetapi ia berjalan menuju lantai 2. Sedangkan Anita ditinggalkan sendiri di tempatnya berdiri semula tanpa ada yang memperdulikannya.Dan Tante Mirna menyuruh Anita untuk menunggu di mobil. Anita menuruti apa yang dikatakan leh Tantenya, karena ia bingung harus menjawab apa?.Apa lagi mereka berdua sudah mau membantu Anita mencari apa yang dibutuhkannya.

Anita berdiri di samping mobilnya yang teparkir di pojok tempat parker.Ia mengambil ponsel dari dalam saku celana jinsnya, lalu ia memencet sebuah nomor telpon dengan lincah oleh jari-jemarinya yang mungil nan indah. Kemudian dia mulai berbicara dengan orang yang ia hubungi ponselnya. Lalu ia tersenyum dibarengi dengan mengedip-ngedipkan kelopak matanya yang halus, terkadang ia tertawa lepas demi membalas apa yang dilakukan oleh lawan bicara di sebrang sana.

\”Nita,,,,,?!” seseorang memanggil Anita seraya melemparan pukulan pelan di pundak kiri Anita. Anita menoleh dan memberi isyarat dengan mata kanannya.Ternyata orang itu adalah Tante Mirna yang sudah selesai berbelanja. Sekarang tinggalah mereka menunggu seseorang yang akan menadi sopir mereka selama perjalanan.

\”Lapar tau,,,,!!”

Tantr Mirna tersenyum seraya berkata \”Tante tau itu, tadi Tante beli 3 bungkus kue unyil untuk kita bertiga” Tante Mirna kembali memperlihatkan senyum manisnya lalu melanjutka berkata \”Tapi tunggu Kak Angga dating nanati kita makan bareng di mobil” Anita mengeluarkan senyum bahagia.

Kak Angga berjalan menuju mobil membawa dua plastic besar yang bila ditebak akan sulit untuk menjawabnya, Sedangkan di samping mobil dua orang wanita sedang menunggunya dengan sabar di bawah terik matahari siang. Mereka melihat kedatangan Kak Angga setelah mereka menoleh ke belakang.Kak Angga melambaikan tangan kanannya seraya berlari menghampiri mereka.Kak Angga sampai di mobil, Anita mengajak Kakaknya memakan roti yang baru saja Tante Mirna belikan untu mereka bertiga.

@         @         @

Setelah berbulan-bulan Anita tinggal di Depok, Anita belum juga dapat beradaptasi dengan teman yang lain. Tetapi setelah satu tahun menjalani kehidupan di Depok, aktif organisasi di sekolah, dan menjadi anggota OSIS yang diadakan oleh sekolahnya pula, Anita sudah mulai terbiasa dengan semua yang ada. Apa lagi kini Anita telah memiliki seorang sahabat yang akrab dipanggil Nina. Dan ada juga dua orang cowok yang sedang mendekati Anita, Anita pun merasakan apa yang sedang terjadi. Namun Anita tak menghiraukan keadaan mereka, Anita tak ingin mengecewakan Dicky, walau Dicky bukanlah siapa-siapanya.

Sugih, seorang cowok yang kini sedan jatuh cinta kepada Anita, ia memiliki wajah yang amat memikau cewek yang melihat, tapi berbeda dengan Anita. ia sudah kelelahan mendekati Anita, karena Anita terlalu tertutup kepada siapapun termasuk padanya. \”Nita, kapan loe bisa nerima cinta gue,?!”

\”Gue gak tahu, dan mungkin gak akan bisa Gih!!” Anita menghembuskan nafas yang tak teratur. \”maafin gue Gih?”

@         @         @

Andra, juga seorang cowok yang sedang mengejar hati Anita, Lagi-lagi Andra bernasib sama dengan Sugih, ia selalu ditolak ketika sedang mencoba menembak Anita. Andra pun memiliki wajah yang tak jauh beda dengan Sugih, namun dalam peran wajah Sugih peringkat pertama. \”Ta, kenapa sih loe gak mau terima cinta gue,?” Andra mengatur kata-kata yang pantas untuk ia katakan. \”tolong Ta, tolong kali ini aja loe mau nerima gue”

\”Dra, gue tahu loe sayang sama gue. Tapi gue gak bisa nerima loe karena gue gak mau nyakitin hati loe, tolong ingat kata-kata itu.” Anita berhenti untuk mengatur nafas \”lagi pula bulan depan gue mau pindah kedaerah asal gue”

@         @         @

Garut, tempat dimana Anita dibesarkan dari kecil hingga ia dapat lulus dari tingkat SLTP dengan nilai yang memuaskan. Setelah meninggalkan tempat ini selama kurang lebih satu tahun, akhirnya ia pun kembali memijakan kaki di tanah kelahiran tercinta.

Anita terpaksa pindah sekolah, ia capek dengan cowok-cowok yang slalu mengintrogasi-nya dan di sisi lain ia senang karena papanya sudah mau memberi perhatian lebih padanya. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan keadaan sekolah di Depok, ia merelakan semua itu karena ia tak mau hatinya berpintah tempat. Tapi, ketika ia berada di Garut ternyata semua sudah berubah, setiap kali ia bertemu dengan Dicky gak ada sedikit pun perasaan yang tertingggal dalam hatinya. Padahal setiap kali bertemu Dicky slalu bertanya tentang perasaanku padanya.

\”Sorry Dick,,, gue rasa, gue gak punya lagi perasaan yang bisa gue kasih buat loe,,,?!”

\”Apa karena ada orang lain Nit,,??! Mungkin di sekolah loe yang dulu,,,?” ucap Dicky memelas.

\”Gue gak tahu Dick,,, semenjak gue di sana, gue gak pernah mau deket sama satu orang cowok pun. Parahnya temem-temen gue nganggap gue gay,,, Kenapa Dick,,, Kenapa,,??!” Anita mengatur nafasnya \”semua karena loe, gue gak terima satu cowok pun yang deketin gue, gak Dick. Tapi, setelah gue pindah ternyata perasaan gue ke loe udah sirna. Maafin gue Dick,, mungkin lebih baik gue kaya gini aja.”

Anita tak mau menerima satu orang pun dari ke-3 cowok itu. Anita mengaku tak ada sedikit pun rasa yang bisa ia berikan kepada mereka. Dan akhirnya Anita hidup bahagia dengan dua orang cowok, yaitu papa dan kakak tercinta.

Facebook Comments

Comments are closed.